Mazmur 139:16 · Efesus 2:10 · Ulangan 6:6–9
MAZMUR 139:16 · EFESUS 2:10 · ULANGAN 6:6–9
"Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang dibentuk, sebelum ada satupun daripadanya." (Mazmur 139:16)
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10)
"Haruslah kamu memperhatikan segala perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6–9)
Kotbah ini mengajak jemaat untuk memandang hidup bukan sebagai kebetulan atau sesuatu yang seenaknya (sak karepe dewek), melainkan sebagai cerita yang sedang ditulis di bawah tuntunan draf ilahi. Dengan membingkai ibadah sebagai pelayanan intergenerasi, pengkhotbah menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk dengan sengaja menulis cerita yang baik—bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga, anak-anak, dan generasi berikutnya, agar mereka mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan takut akan-Nya.
Melalui Mazmur 139:16, jemaat diingatkan bahwa Tuhan sudah memiliki rancangan sebelum manusia terbentuk dalam kandungan. Efesus 2:10 menegaskan bahwa manusia adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk pekerjaan baik. Ulangan 6:6–9 memberi instruksi praktis bahwa cerita tentang Tuhan harus diceritakan dalam segala waktu sehingga tertanam dalam hati anak-anak.
Di tengah dunia yang digambarkan sebagai panggung sandiwara, setiap orang harus memilih untuk memainkan peran yang baik dan otentik, bukan berpura-pura, sambil percaya bahwa Tuhan Sang Pembentuk terus membentuk karya-Nya sampai tujuan akhir tercapai.
Pengkhotbah membuka dengan metafora bahwa hidup ini seperti menulis cerita. Ada kalanya ceritanya senang, ada kalanya susah. Namun yang terpenting, ada Tuhan yang mempunyai draf atau rencana yang menjadi tuntunan.
Dari Mazmur 139:16, pengkhotbah menekankan teks: "Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang dibentuk, sebelum ada satupun daripadanya." Ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki rancangan yang ditulis sebelum manusia ada. Hidup ini bukan kebetulan; Tuhan sudah memperhatikan dan merencanakan setiap hari. Sebelum lahir, Dia adalah Alfa dan Omega—yang memulai dan yang akan menggenapi.
Pengkhotbah menegaskan bahwa relasi (hubungan) menjadi amat penting dalam menulis cerita hidup. Menulis cerita tidak bisa dilakukan sendiri; melibatkan Tuhan, keluarga, anak-anak, dan komunitas.
Ketika orang tua membangun hubungan dengan anak, bukan sekadar memberi makan atau instruksi, tetapi membangun cerita bersama. Setiap kegiatan—termasuk ibadah dan persekutuan—adalah bagian dari membangun cerita yang baik. Tanpa relasi yang sengaja dibangun, cerita hidup akan mandek atau menjadi kosong.
Menggunakan lagu "Dunia ini Panggung Sandiwara", pengkhotbah mengingatkan bahwa dunia ini bagaikan jembatan kehidupan yang penuh peranan. Setiap orang menerima satu peranan yang harus dimainkan. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.
Seringkali manusia bersandiwara demi ekspresi viral atau manfaat sesaat. Namun pengkhotbah menantang jemaat untuk tidak menjadikan hidup sekadar sandiwara palsu, melainkan memilih peran yang baik dan otentik. Jangan hanya bersemangat, tetapi jalani peran kebaikan itu dengan konsisten, sehingga orang lain melihat kebaikan dan memuliakan Tuhan.
Pengkhotbah menyusun empat pilar teologis yang menegaskan bahwa hidup ini bukan seenaknya:
Dari Efesus 2:10, pengkhotbah menegaskan: "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."
Manusia bukan produk kebetulan, melainkan buatan Allah (poiema). Tujuan penciptaan kembali dalam Kristus adalah untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah Allah siapkan sebelumnya. Hidup di dalam pembentukan Tuhan berarti hidup dengan perbuatan baik yang menjadi bagian dari cerita hidup. Ini bukan sekadar motivasi, melainkan realitas ontologis orang yang sudah diciptakan kembali.
Pengkhotbah mengambil Ulangan 6:6–9 sebagai instruksi praktis untuk menulis cerita bersama keluarga. Ayat ini menegaskan bahwa apa yang diperintahkan Tuhan harus diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak, dibicarakan ketika duduk di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring, dan ketika bangun.
Ini harus diikat sebagai tanda pada tangan, menjadi lambang di dahi, dan dituliskan pada tiang pintu rumah dan pintu gerbang. Aplikasi pastoralnya: orang tua harus menceritakan Tuhan dalam segala waktu sehingga iman tertanam dalam hati anak-anak. Bukan sekadar ngomel atau melarang, tetapi duduk bersama, mendengarkan cerita anak, menanyakan cita-cita mereka, dan membangun kenangan bersama. Cerita kecil seperti makan nasi pecel di pinggir jalan bersama keluarga menjadi bagian dari penanaman firman yang hidup.